Bahaya Berwala’ kepada Pemerintah Sekuler

Hatta yang menegakkan Khilafah ala Minhaj Nubuwwah itu adalah al-Mahdi sekalipun, akan tetap dituding sebagai hizbiyyun dan khawarij oleh gerombolan “talafi”; selama orang-orang yang mengklaim diri salafi ini, masih setia berwala’ kepada pemerintahan sekuler ala minhaj dajjal.

Advertisements

Kafir vs Takfiri

Pada zaman Nubuwwah (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam masih hidup), munafiqun (orang-orang munafiq) bisa ditandai dari kemalasannya mengikuti shalat berjamaah di masjid, utamanya shalat berjamaah subuh dan isya, karena ketika itu suasana gelap (di masa itu belum ada lampu) sehingga ketidakhadirannya sulit dideteksi. Adapun di zaman kini, zaman fitnah, orang-orang yang meninggalkan shalat fardhu lima waktu pun masih tidak mau disebut kafir. Padahal amal pembeda antara muslim dan kafir menurut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah meninggalkan shalat. 

Di zaman Nubuwwah, orang-orang yang enggan ikut berjihad atau berperang di jalan Allah, dengan berbagai macam alasan yang dibikin-bikin, langsung diidentifikasi oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai orang-orang munafiq (baca QS at-Taubah 9:43-56). Adapun di masa kini, bahkan jihad itu sendiri menjadi sesuatu yang ditabukan bahkan dituding sebagai perilaku kejahatan dan terorisme, meskipun mereka melakukannya untuk membela diri dan membela kedaulatan Islam seperti yang terjadi di Syam. 

Di zaman Salaf, menolak aqidah yang sudah dimaklumi kebenarannya secara pasti (misalnya bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar) dan menolak berhukum dengan syariat Islam, dianggap sebagai perilaku kafir. Di zaman sekarang, orang-orang yang mengaku muslim, dengan enak dan entengnya menganggap dan mengatakan “semua agama sama” atau “semua agama benar”, lalu orang-orang yang mengatakan mereka telah kafir, justru disalahkan dan dianggap “takfiri” (suka mengkafirkan). Pemerintah yang dengan tegas menolak syariat Islam, menganggap syariat Islam hanya sebatas urusan pribadi, bahkan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah; alih-alih dianggap kafir, mereka malah mendapat gelar kehormatan sebagai Ulil Amri dari sebagian kalangan yang mengaku salafi (tapi imitasi). Sedangkan orang-orang yang mengatakan bahwa pemerintah yang menolak hukum Islam dengan sadar dan rela seperti itu adalah kafir, justru dituduh khawarij (keluar dari al-Jamaah) oleh para salafi imitasi tersebut (dikiranya pemerintahan sekuler itu al-Jama’ah kali ya). 

Itulah fitnah di akhir zaman.