I’tikaf dan Tiga Tingkatan Puasa

Dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, al-Ghazali membagi tiga tingkatan puasa. Beliau berkata: 

“Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus dari yang khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah ‘azza wajalla.”

Lewat I’tikaf, tinggal di masjid selama sepuluh akhir Ramadhan, kita berusaha mencapai tingkat tertinggi dari puasa. Bukan hanya menjauhkan diri dari segala perbuatan dosa dan sia-sia; tetapi kita juga berusaha memalingkan diri dari dunia dan makhluq serta memusatkan perhatian kita hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. 

Hal ini bisa kita lihat betapa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak hanya menetap di masjid selama I’tikaf, namun beliau juga mengurung diri dalam semacam kemah kecil yang hanya cukup untuk memuat satu orang. Jadi I’tikaf yang benar itu tidak hanya membatasi hubungan dengan dunia luar, menghindari ngobrol ngalor-ngidul dengan orang-orang, bahkan sebisa mungkin panca indera ini ditutup aksesnya. Dengan demikian hati bisa lebih tenang, jernih, dan terfokus berkhalwat (berdua-duaan), bertawajjuh (bertatap-muka) dan bermunajat (berdialog) hanya kepada Allah ‘azza wajalla.

Filosofi I’tikaf

Secara fisik, I’tikaf adalah menetap di masjid. Tujuannya untuk memutuskan diri dari kesibukan dunia, mengosongkan hati dari makhluq, membersihkan dosa-dosa dari hati, dan mengisinya dengan aliran kebeningan dzikrullah yang murni. Bila hati kita ibarat wadah, kolam atau telaga. Untuk membersihkannya, pertama-tama kita harus menyumbat atau menutup semua aliran air yang masuk dari luar (tamsil dari panca indera) yang membawa serta kotoran (dosa) dan kekeruhan (sia-sia) ke dalam telaga hati. Setelah itu kita membersihkan dinding dan dasar kolam dari kemelekatan kepada dunia dan makhluq dengan taubat dan istighfar. Kemudian mengisinya dengan mata air tauhid yang bersih dan murni yang bersumber dari Allah yang mengalir lewat dzikir dan al-Quran.

Berhenti Merokok dengan Shaum dan Shadaqah

Efek Puasa Terhadap Perokok

Oleh: dr. Muh. Khidri Alwi

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesung-guhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS, al-Baqarah: 195)

Jumlah perokok semakin meningkat, dan iklannya semakin memikat, mulai dari anak-anak, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sampai kakek-kakek. Anak muda yang terus meningkat jumlahnya yang merokok, digambarkan sebagai macho dan pemberani ketika kepulan asap rokok memenuhi seluruh wajahnya.

Continue reading “Berhenti Merokok dengan Shaum dan Shadaqah”