State-Free Education

Oleh: Adriano Rusfi

(1)

Berharap negara akan melapangkan jalan bagi anak bangsa untuk mengembangkan pendidikan yang memberadabkan, tampaknya semakin lama makin jauh panggang dari api. Bahkan semakin dapat dipastikan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah kementerian dengan tingkat kemudharatan paling tinggi bagi bangsa ini. Syahwat para petinggi bangsa ini, Presiden – DPR – Mendikbud, untuk MENGATUR PENDIDIKAN bukan MELAYANI PENDIDIKAN bangsa ini tak pernah menyurut dari dulu hingga kini. Secercah harapan sebenarnya sempat muncul lewat UU SISDIKNAS No 20/2003 yang dirancang dengan suasana batin deregulatif, namun waktu akhirnya bercerita bahwa itu semua adalah janji palsu negara kepada rakyatnya.

Tak bisa tidak, akhirnya kita, rakyat, harus merebut hak pendidikannya sendiri demi masa depan peradaban bangsa ini. Menyerahkan masa depan pendidikan pada kebijakan politik harus disadari sebagai sangat berbahaya. Harus diakui bahwa pendidikan dan persekolahan adalah hajat hidup sosial tertinggi manusia modern, sehingga menguasai politik pendidikan berarti menguasai hajat hidup terdalam masyarakat moderen, sehingga akan terus-menerus menjadi obyek kebijakan politik penguasa paling seksi. Dan kebutuhan ini semakin krusial, mengingat rejim kekuasaan saat ini memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap keterdidikan rakyat, lewat tema-tema radikalisme, ujaran kebencian, hoax, kebhinnekaan, anti-NKRI, SARA dan sebagainya.

STATE-FREE EDUCATION, tampaknya ini yang harus segera direbut anak bangsa ini : Pendidikan Bebas Negara. Ya, segera… hari ini, bukan besok !!! Ini adalah sebuah gerakan pemberadaban bangsa yang harus melepaskan diri, setidaknya meminimalkan, dari peran dan keterlibatan kekuasaan negara dalam regulasi pendidikan anak bangsa, serta melepaskan diri dari jerat-jerat birokrasi dan formalisasi yang mengungkung, seperti : perijinan, pengawasan, akreditasi dan sertifikasi negara. Sangat saya sadari bahwa gagasan ini akan segera dibaca oleh negara sebagai sesuatu yang sangat berbahaya, karena kekuasaan sejak dulu kadung percaya bahwa : pendidikan yang tak dikontrol negara akan sangat berbahaya bagi masa depan negara itu sendiri.

Continue reading “State-Free Education”

​Hafal Al Qur’an Belum Cukup

Oleh: Zulfi Akmal

Kita menyaksikan hal yang sangat membahagiakan ketika banyak orang tua memiliki antusias yang luar biasa mendidik anaknya menjadi seorang hafizh Al Qur’an. Mereka berharap semoga anaknya nanti bisa menghadiahkan untuknya sebuah mahkota kebanggaan di akhirat kelak.

Hadits yang menjanjikan hal itu memang ada dari Rasulullah. Namun perlu kita ingat, bahwa bukan hafal semata yang menyebabkan seorang anak diizinkan Allah menjadi syafaat bagi orang tuanya di akhirat nanti. Ada hal yang jauh lebih penting dari itu, yang mengangkat derjatnya sampai menjadi pemberi syafaat bagi orang tuanya.

Yaitu, memahami dan mengamalkan apa yang ada di dalam Al Qur’an. Dan ini lebih penting dan lebih sulit. Kalau sekedar hafal, orientalis saja ada yang hafal Al Qur’an. Penguasa zalim seperti Hajjaj ibn Yusuf Ats Tsaqafy memiliki hafalan yang luar biasa, bahkan berjasa besar terhadap Al Qur’an.

Mari kita perhatikan hadits ini lebih dalam.

ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺃﻧﺲ ﺍﻟﺠﻬﻨﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ‏( ﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻤَﺎ ﻓِﻴﻪِ ، ﺃُﻟْﺒِﺲَ ﻭَﺍﻟِﺪَﺍﻩُ ﺗَﺎﺟًﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ، ﺿَﻮْﺀُﻩُ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣِﻦْ ﺿَﻮْﺀِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺕِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓِﻴﻜُﻢْ ، ﻓَﻤَﺎ ﻇَﻨُّﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺬَﺍ

Dari Mu’adz ibn Anas Al Juhany – semoga Allah meredhainya- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menghafal Al Qur’an dan MENGAMALKAN apa yang ada di dalamnya, akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya mahkota di hari Kiamat, cahayanya lebih indah dari cahaya matahari. (Itu hadiah untuk orang tuanya) Bagaimana kira-kira pahala bagi orang yang mengamalkannya itu sendiri?”

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ” ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻢ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻮﻥ ﺑﻪ، ﺍﻟﻌﺎﻣﻠﻮﻥ ﺑﻤﺎ ﻓﻴﻪ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺤﻔﻈﻮﻩ ﻋﻦ ﻇﻬﺮ ﻗﻠﺐ، ﻭﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺣﻔﻈﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻔﻬﻤﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﻓﻴﻪ، ﻓﻠﻴﺲ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺇﻥ ﺃﻗﺎﻡ ﺣﺮﻭﻓﻪ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺴﻬﻢ .” ﺯﺍﺩ ﺍﻟﻤﻌﺎﺩ

Ibnul Qayyim berkata: Ahlul Qur’an adalah orang yg mengamalkan ajarannya, meskipun tidak dihafalkan. Adapun orang yang menghafalnya namun tidak memahami kandungannya dan tidak mengamalkannya bukanlah termasuk ahlul Qur’an meskipun ia menegakkan huruf-hurufnya seperti ia menegakkan anak panah (maksudnya: mahir dalam membacanya) (Zadul Ma’ad).

Jadi, belum cukup hanya mendidik anak untuk menghafal Al Qur’an. Ada tugas yang lebih berat dari itu, yaitu mendidik mereka untuk memahami dan mengamalkan. Tentu saja orangtua harus lebih dahulu memberikan contoh dalam memahami dan mengamalkannya.

Ayahbunda, Apakah Rasulullah Tak Lagi Menarik?

Oleh: Adriano Rusfi

Hebat di kala belia selalu bikin kagum, terpesona dan iri. Dan itu telah berlangsung sejak dulu. Ada Imam Syafi’i yang telah jadi mufti saat 10 tahun… Ada Muhammad Al-Fatih yang berusia 16 tahun dan menaklukkan Konstantinopel… Kini ada Naufal Si Penemu Listrik Kedondong… Lalu Izzan yang 14 tahun diterima di ITB. Aku bergumam di sebuah sudut bumi: kapan anakku ?

Aku membatin dalam hati: “Itu wajar…”.

Bukankah anak yang dipakaikan busana orang dewasa akan selalu lucu, menggemaskan dan memesona? Ya, aku pernah memakaikan cucuku celana formal, baju lengan panjang, rompi dan dasi kupu-kupu. Lalu akupun tak berhenti menatap mengaguminya. Pasti kekaguman itu pula yang terjadi andai si kecil telah memiliki atribut orang dewasa. Hmmm… semacam detektif Conan : si cilik berkacamata tebal yang mampu pecahkan segala misteri.

Tapi kagumku segera siuman saat membaca kisah tragis seorang Jet Lee. Pesilat fenomenal itu kini tergolek di atas kursi roda. 

Wajahnya imut, dan ia telah begitu digdaya, terkenal, kaya dan perkasa saat masih sangat muda. Tiga puluh tahun… dan ia telah memiliki segalanya. Sayangnya pencapaian tiga puluh tahun itu tak mampu membeli tiga puluh tahun yang tersisa. Di atas kursi roda, Jet Lee hanya bisa menatap masa depan dengan airmata (tentang Jet Lee, ternyata sekarang sudah tak di kursi roda, walau mengidap komplikasi penyakit).

Ah, kenapa aku lupakan sosok Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Apakah karena ia belum menjadi siapa-siapa sebelum berusia 40 tahun? Apakah karena ia baru tampak hebat saat berusia di atas 50 tahun? Ya… ya… seorang Muhammad “hanya” mampu menjadi sosok kontroversial musuh masyarakat saat berusia 40 sd 53 tahun. Ia “hanya” orang yang begitu segar-bugar saat berusia 53 tahun, sehingga mampu memimpin perang Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk, Khaibar, Futuh Makkah, atau Hunain. Ia “hanya” leIaki yang di usia 50-an menjadi da’i, hakim, pemimpin dan panglima sekaligus. “hanya” lelaki yang justru mampu menunjukkan keperkasaan seksualnya di usia 50-an.

Aku merenung di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini: kenapa Muhammad shallallahu alaihi wasallam tak lagi menarik bagiku? Ia bahkan di mataku telah kalah pamor dibandingkan dua pengikutnya yang lain: Muhammad Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Al-Fatih. Ah, jangan-jangan aku telah jatuh matre dan kekinian: bahwa mendidik anak untuk menjadi Muhammad pada usia 40 tahun adalah investasi yang balik modalnya terlalu lama. Ya, aku telah menjadi kapitalis yang ingin meraih capital gain dalam hitungan jam !!!

Terlalu lama… ya, terlalu lama !!! Itu isi teriakan otak kapitalisku. Meneladani Muhammad shallallahu alaihi wasallam. berarti mengisi usia 0 sd 15 tahun “hanya” dengan character building. Meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berarti memanfaatkan hari-hari 15 sd 40 tahun “hanya” dengan capacity building. Menjadi Muhammad berarti memilih untuk tidak ngoyo berburu kehebatan sebelum usia 40 tahun. Menjadi Muhammad berarti mengisi masa muda “hanya” dengan sejuta kebaikan sosial, agar ia dibayar dengan doa-doa tulus untuk kesehatan, kebugaran, keberkahan dan kehebatan masa tua.

Astaghfirullah… Kini aku berusaha siuman sesadar-sadarnya. Kenapa aku tak berikhtiar mendidik generasi peradaban yang hebat saat berusia di atas 40 tahun? Maka, saat seorang dokter muda dari Malang mengingatkanku akan Surah Al-Ahqaf ayat 15 tentang kematangan di usia 40, dan mengajakku untuk mempersiapkan manusia hebat di usia 50-an, aku segera menyambutnya. Aku menawarkan sebuah visi :

A Transcend Life for The Future Health. Dan sebuah motto: How about the future..

“Dan sungguh akhir itu lebih baik daripada awal” (QS Adh-Dhuha : 4)