Ayahbunda, Apakah Rasulullah Tak Lagi Menarik?

Oleh: Adriano Rusfi

Hebat di kala belia selalu bikin kagum, terpesona dan iri. Dan itu telah berlangsung sejak dulu. Ada Imam Syafi’i yang telah jadi mufti saat 10 tahun… Ada Muhammad Al-Fatih yang berusia 16 tahun dan menaklukkan Konstantinopel… Kini ada Naufal Si Penemu Listrik Kedondong… Lalu Izzan yang 14 tahun diterima di ITB. Aku bergumam di sebuah sudut bumi: kapan anakku ?

Aku membatin dalam hati: “Itu wajar…”.

Bukankah anak yang dipakaikan busana orang dewasa akan selalu lucu, menggemaskan dan memesona? Ya, aku pernah memakaikan cucuku celana formal, baju lengan panjang, rompi dan dasi kupu-kupu. Lalu akupun tak berhenti menatap mengaguminya. Pasti kekaguman itu pula yang terjadi andai si kecil telah memiliki atribut orang dewasa. Hmmm… semacam detektif Conan : si cilik berkacamata tebal yang mampu pecahkan segala misteri.

Tapi kagumku segera siuman saat membaca kisah tragis seorang Jet Lee. Pesilat fenomenal itu kini tergolek di atas kursi roda. 

Wajahnya imut, dan ia telah begitu digdaya, terkenal, kaya dan perkasa saat masih sangat muda. Tiga puluh tahun… dan ia telah memiliki segalanya. Sayangnya pencapaian tiga puluh tahun itu tak mampu membeli tiga puluh tahun yang tersisa. Di atas kursi roda, Jet Lee hanya bisa menatap masa depan dengan airmata (tentang Jet Lee, ternyata sekarang sudah tak di kursi roda, walau mengidap komplikasi penyakit).

Ah, kenapa aku lupakan sosok Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Apakah karena ia belum menjadi siapa-siapa sebelum berusia 40 tahun? Apakah karena ia baru tampak hebat saat berusia di atas 50 tahun? Ya… ya… seorang Muhammad “hanya” mampu menjadi sosok kontroversial musuh masyarakat saat berusia 40 sd 53 tahun. Ia “hanya” orang yang begitu segar-bugar saat berusia 53 tahun, sehingga mampu memimpin perang Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk, Khaibar, Futuh Makkah, atau Hunain. Ia “hanya” leIaki yang di usia 50-an menjadi da’i, hakim, pemimpin dan panglima sekaligus. “hanya” lelaki yang justru mampu menunjukkan keperkasaan seksualnya di usia 50-an.

Aku merenung di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini: kenapa Muhammad shallallahu alaihi wasallam tak lagi menarik bagiku? Ia bahkan di mataku telah kalah pamor dibandingkan dua pengikutnya yang lain: Muhammad Idris Asy-Syafi’i dan Muhammad Al-Fatih. Ah, jangan-jangan aku telah jatuh matre dan kekinian: bahwa mendidik anak untuk menjadi Muhammad pada usia 40 tahun adalah investasi yang balik modalnya terlalu lama. Ya, aku telah menjadi kapitalis yang ingin meraih capital gain dalam hitungan jam !!!

Terlalu lama… ya, terlalu lama !!! Itu isi teriakan otak kapitalisku. Meneladani Muhammad shallallahu alaihi wasallam. berarti mengisi usia 0 sd 15 tahun “hanya” dengan character building. Meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berarti memanfaatkan hari-hari 15 sd 40 tahun “hanya” dengan capacity building. Menjadi Muhammad berarti memilih untuk tidak ngoyo berburu kehebatan sebelum usia 40 tahun. Menjadi Muhammad berarti mengisi masa muda “hanya” dengan sejuta kebaikan sosial, agar ia dibayar dengan doa-doa tulus untuk kesehatan, kebugaran, keberkahan dan kehebatan masa tua.

Astaghfirullah… Kini aku berusaha siuman sesadar-sadarnya. Kenapa aku tak berikhtiar mendidik generasi peradaban yang hebat saat berusia di atas 40 tahun? Maka, saat seorang dokter muda dari Malang mengingatkanku akan Surah Al-Ahqaf ayat 15 tentang kematangan di usia 40, dan mengajakku untuk mempersiapkan manusia hebat di usia 50-an, aku segera menyambutnya. Aku menawarkan sebuah visi :

A Transcend Life for The Future Health. Dan sebuah motto: How about the future..

“Dan sungguh akhir itu lebih baik daripada awal” (QS Adh-Dhuha : 4)

Advertisements

​Memutus Rantai Siklus Anak Nakal

Saat ngopi bareng mas Dodik Mariyanto di teras belakang rumah, iseng-iseng saya buka obrolan dengan satu kalimat tanya. “Mengapa anak baik biasanya semakin baik, dan anak nakal biasanya semakin nakal ya mas?”

Mas Dodik Mariyanto mengambil kertas dan spidol, kemudian membuat beberapa lingkaran-lingkaran.

“Wah suka banget, bakalan jadi obrolan berbobot nih”, pikir saya ketika melihat kertas dan spidol di tangan mas Dodik.

Mas Dodik mulai menuliskan satu hadist:

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”

Artinya setiap anak yang baik, pasti membuat ridho orangtuanya, hal ini akan membuat Allah Ridho juga.

Tapi setiap anak nakal, pasti membuat orangtuanya murka, dan itu akan membuat Allah murka juga.

“Kamu pikirkan implikasi berikutnya dan cari literatur yang ada untuk membuat sebuah pola”, tantang mas Dodik ke saya.

Waaa pak Dosen mulai menantang muridnya, suka saya.

Setelah membolak balik berbagai literatur yang ada, akhirnya saya menemukan satu tulisan menarik yang ditulis oleh kakak kelas mas Dodik, yaitu mas Dr. Agus Purwanto DSc, di sana beliau menuliskan bahwa anak nakal dan anak baik itu bergantung pada ridho dan murka orangtuanya.

Akhirnya kami berdua mengolahnya kembali, membuatnya menjadi siklus anak baik (lihat gambar siklus 1) dan siklus anak nakal ( lihat siklus 2).

Siklus Anak Baik ( siklus 1)

Anak Baik –> orangtua Ridho –> Allah Ridho –> keluarga berkah –> bahagia –> anak makin baik.

Siklus Anak nakal ( siklus 2)

Anak Nakal –> orangtua murka –> Allah Murka –> keluarga tidak berkah –> tidak bahagia –> anak makin nakal.

Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.

Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ? ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.

Anak Nakal –> ORANGTUA RIDHO –> Allah Ridho –> keluarga berkah –> bahagia –> anak jadi baik.

Berat? Iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. Bagaimana caranya kita sebagai orangtua bisa ridho ketika anak kita nakal?

Ini kuncinya:

“Bila kalian memaafkannya… menemuinya dan melupakan kesalahannya… maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64:14)

Caranya orangtua ridho adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.

Jika anak nakal, tapi orangtua ridho – menerima, memaafkan dan berdialog, lalu melupakan kesalahannya – maka siklus buruk bisa dirubah. Orangtua ridho, Allah pun ridho.

Semoga bermanfaat.

Berikut video kisah nyata ibu yang ridha dengan anaknya yang nakal.