Bacaan al-Quran di Waktu Dunia Sempit

Bacaan al-Quran akan lebih berkesan dan lebih mudah diserap makna-makna dan pesan-pesannya, bila hati kita dalam keadaan tenang dan bening, pasrah kepada Allah, meninggalkan ambisi dunia dan menghadap ke akhirat. Itulah sebabnya bacaan al-Quran di bulan Ramadhan lebih berkesan, ketika perut lagi kosong, badan sedang lemah, justru jiwa kita menjadi lebih kuat dan tajam. Ketika kita merasa lemah dan pasrah kepada Allah, nafsu sedang dinon-aktifkan dan hati kita tertuju kepada ibadah dan akhirat, di waktu itulah ayat-ayat al-Quran menggores tajam di dalam qalbu dan pantulan makna-maknanya mudah ditangkap.

Firman Allah Ta’ala yang terjemahannya:

“Apabila Kami telah selesai membacakan al-Quran itu maka ikutilah bacaannya. Kemudian atas tanggungan Kami lah penjelasannya. Tetapi sayang kalian mencintai dunia dan meninggalkan akhirat!” [QS al-Qiyamah 75:18-20]

*video bacaan al-Quran ust. Nafis Yakub lebih hidup dan berkesan ketika beliau sedang meringkuk di penjara, ketika jiwa pasrah dan terhalang dari dunia.

Kafir vs Takfiri

Pada zaman Nubuwwah (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam masih hidup), munafiqun (orang-orang munafiq) bisa ditandai dari kemalasannya mengikuti shalat berjamaah di masjid, utamanya shalat berjamaah subuh dan isya, karena ketika itu suasana gelap (di masa itu belum ada lampu) sehingga ketidakhadirannya sulit dideteksi. Adapun di zaman kini, zaman fitnah, orang-orang yang meninggalkan shalat fardhu lima waktu pun masih tidak mau disebut kafir. Padahal amal pembeda antara muslim dan kafir menurut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah meninggalkan shalat. 

Di zaman Nubuwwah, orang-orang yang enggan ikut berjihad atau berperang di jalan Allah, dengan berbagai macam alasan yang dibikin-bikin, langsung diidentifikasi oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai orang-orang munafiq (baca QS at-Taubah 9:43-56). Adapun di masa kini, bahkan jihad itu sendiri menjadi sesuatu yang ditabukan bahkan dituding sebagai perilaku kejahatan dan terorisme, meskipun mereka melakukannya untuk membela diri dan membela kedaulatan Islam seperti yang terjadi di Syam. 

Di zaman Salaf, menolak aqidah yang sudah dimaklumi kebenarannya secara pasti (misalnya bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar) dan menolak berhukum dengan syariat Islam, dianggap sebagai perilaku kafir. Di zaman sekarang, orang-orang yang mengaku muslim, dengan enak dan entengnya menganggap dan mengatakan “semua agama sama” atau “semua agama benar”, lalu orang-orang yang mengatakan mereka telah kafir, justru disalahkan dan dianggap “takfiri” (suka mengkafirkan). Pemerintah yang dengan tegas menolak syariat Islam, menganggap syariat Islam hanya sebatas urusan pribadi, bahkan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah; alih-alih dianggap kafir, mereka malah mendapat gelar kehormatan sebagai Ulil Amri dari sebagian kalangan yang mengaku salafi (tapi imitasi). Sedangkan orang-orang yang mengatakan bahwa pemerintah yang menolak hukum Islam dengan sadar dan rela seperti itu adalah kafir, justru dituduh khawarij (keluar dari al-Jamaah) oleh para salafi imitasi tersebut (dikiranya pemerintahan sekuler itu al-Jama’ah kali ya). 

Itulah fitnah di akhir zaman.

Dua Sisi Keutamaan Shalawat

Pertama. Kita ketahui bahwa agama ini mengatur dua hubungan yang kita kenal dengan sebutan “hablun minallah” yakni hubungan vertikal dengan Allah dan “hablun minannas” atau hubungan horizontal dengan sesama manusia. Shalawat telah mencakup keduanya. Hablun minallah tujuannya jelas hanya satu yakni kepada Allah. Shalawat adalah dzikir dan doa kepada Allah. Sedang hablun minannas dalam shalawat berupa hubungan kita dengan manusia dan makhluq terbaik di alam semesta yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia yang menempati urutan pertama sebagai orang yang paling wajib kita cintai, hormati, dan berbuat baik kepadanya; lebih dari cinta, hormat, dan kebaikan kita kepada kedua seluruh manusia hatta orangtua sekalipun.

Kedua. Dalam suatu Hadits disebutkan bahwa setiap doa yang dipanjatkan oleh seseorang untuk kebaikan orang lain, maka malaikat akan mendoakan untuknya agar mendapat kebaikan serupa. Demikian halnya dengan shalawat yang redaksinya berupa doa kita kepada Allah agar melimpahkan salam sejahtera kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Bahkan untuk shalawat setiap kali shalawat yang kita panjatkan, Allah subhanahu wata’ala yang langsung akan membalas bershalawat untuk kita. “Siapa yang bershalawat atasku sekali, maka Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali”, demikianlah informasi dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Marilah kita memperbanyak membaca shalawat, apalagi di hari Jumat ini, yang memiliki keutamaan dan anjuran khusus untuk kita memperbanyak shalawat di dalamnya. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallim…

www.facebook.com/adifitrah

Manhaj Salaf (Ulama dan Umara)

Di zaman Salaful Ummah (Sahabat, Tabi’in, Atba’ut Tabi’in), ummat Islam bersatu di atas al-Quran dan as-Sunnah yang shahih. Setelah zaman Salaf berlalu, ummat Islam dituntut untuk memperjelas komitmennya kepada manhaj (metode ilmiah) Ulama Salaf dalam memahami dan mengamalkan al-Quran dan as-Sunnah. Agar bisa selamat dari berbagai bid’ah dan penyimpangan akibat pengaruh filsafat dan tradisi keagamaan di luar Islam. Setelah Khilafah Islamiyah runtuh di akhir zaman, disamping mengikuti al-Quran dan as-Sunnah dengan manhaj Ulama Salaf, ummat Islam dituntut pula untuk mempertegas komitmennya kepada manhaj (sistem imarah atau pemerintahan) Umara Salaf yakni Khilafah Islamiyah yang menyatukan ummat Islam seluruh dunia di atas landasan al-Quran dan as-Sunnah. Agar ummat Islam tidak disesatkan oleh fitnah akhir zaman yang memanipulasi atsar (ucapan dan perbuatan) Ulama Salaf (yang sejatinya diucapkan dan dilakukan dalam konteks sistem daulah islamiyah) untuk kepentingan politik kufur dan pemerintahan sekuler yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam sedikit pun.

http://www.facebook.com/adifitrah

Menganggap “Semua Agama Sama”, Murtad!

Entah kenapa, saya pribadi tidak begitu peduli lagi dengan isu “semua agama sama” atau “semua agama benar”. Bagi saya persoalan tersebut sudah selesai. Menganggap “semua agama sama” ya sama saja tidak beragama alias kafir. Kufran bawwahan, kafir yang nyata! Tidak pedulia ia seorang awam atau dianggap ulama. Tidak peduli ia rakyat jelata atau pemerintah yang dianggap Ulil Amri oleh para salafi imitasi. Meskipun ia rajin shalat, rutin puasa, dan telah haji berkali-kali.

Entah kenapa, saya juga tidak begitu sedih lagi bila banyak orang yang terpengaruh dan berbondong-bondong menganut i’tikad yang kufur tersebut. Ilmu dan informasi tentang perbedaan nyata antara ajaran tauhid dalam Islam dengan ajaran agama-agama lain yang penuh dengan kesyirikan sudah diketahui oleh semua orang. Kalau sampai mereka membikin pernyataan yang menyamakan semua agama, membenarkan semua agama, berarti mereka memang tidak percaya kepada kebenaran Islam, tidak cinta kepada ajaran tauhid dan risalah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Meskipun mereka tetap mengaku muslim dan tidak mau keluar dari Islam. Mereka telah murtad. Tidak peduli berapa banyak jumlah mereka. 

Mereka wajib bertaubat dan memperbaharui keislamannya, jika ingin selamat.

Islam di akhir zaman ini, tidak butuh dengan ummat yang setengah-setengah dalam beragama, tidak punya izzah dan ghirah dengan Islam. Islam di akhir zaman tidak bisa dipegang dengan baik oleh orang-orang yang tidak teriris-iris hatinya melihat penderitaan dan kezhaliman yang menimpa kaum muslimin. Islam di akhir zaman tidak bisa dipegang dengan erat oleh orang-orang yang masih mencari keredhaan dan keakraban dari orang-orang kafir yang tidak henti-hentinya berbuat makar untuk memojokkan dan mencelakai muslimin. Islam di akhir zaman tidak bisa dipegang dengan teguh oleh orang-orang yang tidak tahan dengan celaan orang-orang kafir dan munafiq yang menganggap jihad dan mujahidin sebagai terorisme dan khawarij, padahal mereka sendiri membantai muslimin dan muslimat dengan bom-bom pemusnah massal, setiap hari.

Tantangan Islam ke depan sungguh sangat dahsyat. Orang-orang yang berhati lemah akan murtad dan diganti oleh Allah dengan orang-orang yang Dia cintai dan mencintai Dia. Inilah visi saya sekarang di akhir zaman.

“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah, dan tidak takut dengan celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” [QS al-Ma’idah 5:54]

Makin Memperbanyak Istigfar

Ada dua keadaan, kita harus makin memperbanyak Istighfar. Pertama, ketika kita merasa banyak berbuat dosa. Ini mudah difahami. Kedua, ketika kita merasa sedikit berbuat dosa. Karena hal itu menandakan kita sedang lalai, hati kita kurang bersih sehingga tidak bisa melihat dosa-dosa yang samar. Kita lalai dengan banyaknya kemungkaran di sekitar kita yang belum kita cegah, kita lalai dengan hak-hak kaum fakir-miskin di sekitar kita yang kesulitan mendapatkan makanan pokok dan pakaian layak, kita lalai dengan jutaan saudara-saudara kita yang dizhalimi oleh kaum kuffar tanpa kita bisa membela, kita lalai dengan agungnya hak Allah dan banyaknya nikmat Allah yang belum bisa kita ibadahi dan syukuri. Hati kita kotor, tidak mampu menangkap dosa-dosa samar (bukan berarti dosa kecil) yang pasti sering hinggap pada diri kita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mungkin bohong dan bukan basa-basi ketika beliau bersabda: “SETIAP anak Adam pasti banyak dan sering berbuat dosa dan kesalahan (khatthaa’uun).” Bahkan boleh jadi, kita merasa sedikit berbuat dosa karena hati kita sedang terkena penyakit UJUB dan KIBR (sombong). Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak masuk surga orang yang ada kibr dalam hatinya meskipun hanya seberat dzarrah”. Na’udzu billah min dzalik!

http://www.facebook.com/adifitrah