Menjaga dan Menambah Iman di Akhir Zaman

Menambah ilmu itu mudah, menambah iman itu yang susah. Karena hal itu terkait dengan bagaimana sikap hati kita ketika menuntut ilmu. Mampukah kita memunculkan getaran rasa takut kepada Allah ketika mendengar atau membaca ayat-ayat-Nya? Mampukah kita menghadirkan niat untuk mengamalkan ilmu itu? Mampukah kita mengikis ujub, menganggap diri selalu benar dan merasa lebih baik daripada orang lain? Mampukah kita menjaga rasa cinta kepada sunnah dan mampukah rasa benci kepada setiap kemungkaran? Mampukah kita menjaga sikap santun dan lembut kepada sesama mu’min dan menjaga sikap tegas dan keras kepada orang-orang kafir? Mampukah kita memupuk dalam hati kita cita-cita untuk berjihad meninggikan Kalimat Allah di muka bumi? Mampukah kita menjaga sikap agar tidak menjadikan sistem kekuasaan sekuler sebagai wali atau ulil amri kita? Mampukah kita tegar dalam menghadapi celaan dan cobaan hidup di akhir zaman yang mengepung dari segala penjuru kita dengan syubhat (ajaran sesat), syahwat (godaan nafsu) dan teror (intimidasi mental dan fisik terhadap muslimin yang bercita-cita menegakkan Islam kaffah)!

Advertisements

Karakteristik Generasi 554 dan Fenomena Riddah

Akhir zaman ini adalah zaman fitnah, zaman maraknya ujian dan bencana yang berat dan dahsyat, baik secara mental maupun fisik, sehingga banyak diantara kaum muslimin yang murtad. Riddah atau keluar dari Islam (pelakunya disebut murtad) di sini bukan hanya murtad dengan sadar alias keluar dari Islam atau ingkar setelah beriman. Melainkan juga murtad tanpa sadar. Masih mengaku atau merasa muslim, padahal telah melakukan perbuatan yang bernilai kufur. Fenomena riddah ini tidak hanya melanda orang-orang awam, melainkan juga melanda orang-orang berilmu dan pemuka agama. Hal ini terpaksa dan harus kita ungkapkan, agar kita tidak terkejut dan tertipu dengan banyaknya orang-orang yang melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya. Lebih dari itu, agar setiap kita benar-benar waspada dan khawatir terhadap diri kita masing-masing. Mengingat dahsyatnya fitnah di akhir zaman ini!

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Setelah itu akan terjadi fitnah Duhaima’, yang tidak membiarkan seorang pun dari umat ini kecuali akan ditamparnya dengan tamparan yang keras. Ketika orang-orang mengatakan, “Fitnah telah selesai”, ternyata fitnah itu masih saja terjadi. Di waktu pagi seseorang dalam keadaan beriman, namun di waktu sore ia telah menjadi orang kafir. Akhirnya manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan beriman yang tidak ada kemunafikan sedikit pun di antara mereka, dan golongan munafik yang tidak ada keimanan sedikit pun di antara mereka. Jika hal itu telah terjadi, maka tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya.”  [HR. Abu Dawud no. 3704, Ahmad no. 5892, dan Al-Hakim no. 8574. Dishahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi]

Continue reading “Karakteristik Generasi 554 dan Fenomena Riddah”

Penyakit Wahn dan Penguasa Arab

​Ummat Islam banyak, sangat banyak. Dari segi materi cukup kaya, dari segi militer lumayan kuat. Kenapa takut kepada yahudi zionis yang secuil dan pengecut itu. Jawabannya sudah diungkap oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sejak dahulu. Penyakit wahn (cinta dunia takut mati) dan meninggalkan Jihad. Para ulama, da’i dan aktifis muslim sudah mengetahui dan mengakui hal ini. Jadi kenapa kita mesti malu-malu, takut-takut, atau ragu-ragu untuk mengakui sejumlah kesalahan para penguasa Arab dalam konflik di Timur Tengah? Bukankah para penguasa itulah yang paling rentan dan rawan terkena penyakit wahn? Disamping paling bertanggung jawab mengarahkan dan menggerakkan ummat? Mengakui dan menyadari hal ini adalah point awal yang sangat penting bagi ummat Islam untuk mendorong perubahan total menuju kejayaan dan kemenangan Islam dan muslimin. Ayo para da’i dan aktifis!

video: nasyid penyemangat, jundullah!

Surat Abdullah bin al-Mubarak dari Medan Jihad kepada al-Fudhail bin ‘Iyadh

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam biografi Imam Abdullah bin Al Mubarak, katanya: Abdullah bin al-Mubarak mendiktekan kepada saya bait-bait syair di daerah Tharsus. Lalu saya meninggalkannya dan pergi. Saya membawa surat itu dan menjumpai al-Fudhail bin ‘Iyadh pada tahun 170 atau 177. Begini bunyi surat itu:

يا عابد الحرمين لو أبصرتنا … لعلمت أنك في العبادة تلعب
من كان يخضب خده بدموعه … فنحورنا بدمائنا تتخضب
أو كان يتعب خيله في باطل … فيخولنا يوم الصبيحة تتعب
ريح العبير لكم ونحن عبيرنا … وهج السنابك والغبار الأطيب
ولقد أتانا من مقال نبينا … قول صحيح صادق لا يكذب
لا يستوي وغبار خيل الله في … أنف امرئ ودخان نار تلهب
هذا كتاب الله ينطق بيننا … ليس الشهيد بميت لا يكذب

“Wahai ahli ibadah di dua tanah Haram …
seandainya kau melihat kami, niscaya kau akan tahu …
bahwa engkau dengan ibadahmu itu hanyalah main-main belaka…
Orang yang membasahi pipinya dengan linangan air matanya…
sementara kami membasahi leher kami dengan darah-darah kami…

Atau orang yang membuat lelah kuda perangnya dalam kesia-siaan …
sementara kuda-kuda kami lelah payah di medan pertempuran ..

Parfum wewangian bagimu adalah aroma wangi yang semerbak …
sementara wewangian kami adalah pasir dan debu-debu yang mengepul …

Padalah telah datang kepada kita sabda Nabi kita ….
perkataan yang jujur lagi benar dan tidak dusta …

Bahwa tidak akan bertemu debu-debu kuda di jalan Allah di hidung seseorang
dan kobaran api neraka yang menyala-nyala …

Inilah pula Kitabullah yang berbicara di antara kita …
bahwa orang mati syahid itu tidaklah mati, dan ini bukanlah kedustaan …”

Muhammad bin Ubrahim bin Abi As Sukainah berkata: Saya menemui Al Fudhail bin ‘Iyadh di Masjidil Haram dan dia bersama surat itu. Ketika dia membacanya, nampak kedua matanya berlinang, dan dia berkata: “Abu Abdirrahman (Abdullah bin al-Mubarak) telah benar dan dia telah menasihatiku.” Muhammad bin Ibrahim bertanya: “Apakah engkau termasuk yang menuliskan haditsnya?” Beliau menjawab: “Ya!” Lalu dia bekata: “Tulislah hadits ini, sebagai balasan untukmu yang membawakan surat Abu Abdirrahman untukku.” Lalu Al Fudhail bin ‘Iyadh mendiktekan untukku:

حدثنا منصور بن المعتمر عن أبي صالح عن أبي هريرة أن رجلا قال: يا رسول الله، علمني عملا أنال به ثواب المجاهدين في سبيل الله، فقال «هل تستطيع أن تصلي فلا تفتر، وتصوم فلا تفطر؟» فقال: يا رسول الله، أنا أضعف من أن أستطيع ذلك، ثم قال النبي صلى الله عليه وسلم «فو الذي نفسي بيده لو طوقت ذلك ما بلغت المجاهدين في سبيل الله، أو ما علمت أن الفرس المجاهد ليستن في طوله، فيكتب له بذلك الحسنات

Berkata kepada kami Manshur bin al-Mu’atamar, dari Abu ash-Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah ada amal perbuatan yang sebanding dengan Jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Kalian tidak akan mampu.” Mereka bertanya hingga dua atau tiga kali, semuanya dijawab: “Kalian tidak akan mampu.” Begitu yang ketiga kalinya, beliau bersabda: “Perumpamaan mujahid di jalan Allah bagaikan seorang yang berpuasa, shalat malam, berdzikir membaca ayat Allah, tidak pernah henti dari puasa dan shalatnya itu sampai pulangnya si mujahid di jalan Allah Ta’ala.”

Kisah ini terdapat antara lain dalam kitab: Tarikh Dimasyqi, karya Imam Ibnu ‘Asakir (w. 571 H), Juz. 32, Hal. 450, Th. 1415 H – 1995M. Darul Fikr, Beirut; Siyar A’lam An Nubala, karya Imam Adz Dzahabi (w. 758 H), Juz, 7, Hal. 386, Th. 1427H – 2006M. Darul Hadits, Kairo; Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, karya Imam Ibnu Katsir (w. 774 H), Juz. 2, Hal. 179, Cet. 1, 1419 H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tahqiq: Muhammad Husein Syamsuddin.

(Disadur dari tulisan: ustadz Farid Nu’man Hasan)

Nasyid Saufa Namdhi (Arab-Indonesia)

Salah satu Sunnah (tradisi) Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para Sahabat beliau adalah melantunkan atau mendendangkan nasyid dalam situasi yang berat dan sukar. Misalnya ketika sedang berjaga (ribath) di garis pertahanan, berjalan menuju medan jihad, atau bekerja bakti, dan sebagainya. Nasyid tersebut berisi syair-syair yang memberi semangat juang, mengingatkan kepada Allah dan hari akhirat. Tradisi semacam ini terus dilanjutkan oleh para mujahidin dari zaman ke zaman. Seperti kita lihat, bagaimana para mujahidin Islamic State, dalam situasi berat di medan ribath dan jihad, mereka justru makin kreatif menggubah berbagai nasyid islami. Meskipun Tilawah al-Quran tetap menjadi prioritas wirid rutin harian. Nasyid tersebut hanya dilantunkan sesekali di sela-sela aktifitas berat untuk menghibur sesama ikhwan mujahidin sekaligus membangkitkan spirit ruh jihad.

Lima Karakteristik Ulama Salaf

خَمْسٌ كَانَ عَلَيْهَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعُونَ بِإِحْسَانٍ : لُزُومُ الْجَمَاعَةِ ، وَاتِّبَاعُ السُّنَّةِ ، وَعِمَارَةُ الْمَسْجِدِ ، وَتِلاوَةُ الْقُرْآنِ ، وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Al-Auza’i rahimahullah berkata: Ada lima karakteristik para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik:
1) Komitmen dengan al-Jama’ah
2) Mengikuti Sunnah
3) Memakmurkan masjid
4) Membaca Al-Quran
5) Jihad Fi Sabilillah