Surat Abdullah bin al-Mubarak dari Medan Jihad kepada al-Fudhail bin ‘Iyadh

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam biografi Imam Abdullah bin Al Mubarak, katanya: Abdullah bin al-Mubarak mendiktekan kepada saya bait-bait syair di daerah Tharsus. Lalu saya meninggalkannya dan pergi. Saya membawa surat itu dan menjumpai al-Fudhail bin ‘Iyadh pada tahun 170 atau 177. Begini bunyi surat itu:

يا عابد الحرمين لو أبصرتنا … لعلمت أنك في العبادة تلعب
من كان يخضب خده بدموعه … فنحورنا بدمائنا تتخضب
أو كان يتعب خيله في باطل … فيخولنا يوم الصبيحة تتعب
ريح العبير لكم ونحن عبيرنا … وهج السنابك والغبار الأطيب
ولقد أتانا من مقال نبينا … قول صحيح صادق لا يكذب
لا يستوي وغبار خيل الله في … أنف امرئ ودخان نار تلهب
هذا كتاب الله ينطق بيننا … ليس الشهيد بميت لا يكذب

“Wahai ahli ibadah di dua tanah Haram …
seandainya kau melihat kami, niscaya kau akan tahu …
bahwa engkau dengan ibadahmu itu hanyalah main-main belaka…
Orang yang membasahi pipinya dengan linangan air matanya…
sementara kami membasahi leher kami dengan darah-darah kami…

Atau orang yang membuat lelah kuda perangnya dalam kesia-siaan …
sementara kuda-kuda kami lelah payah di medan pertempuran ..

Parfum wewangian bagimu adalah aroma wangi yang semerbak …
sementara wewangian kami adalah pasir dan debu-debu yang mengepul …

Padalah telah datang kepada kita sabda Nabi kita ….
perkataan yang jujur lagi benar dan tidak dusta …

Bahwa tidak akan bertemu debu-debu kuda di jalan Allah di hidung seseorang
dan kobaran api neraka yang menyala-nyala …

Inilah pula Kitabullah yang berbicara di antara kita …
bahwa orang mati syahid itu tidaklah mati, dan ini bukanlah kedustaan …”

Muhammad bin Ubrahim bin Abi As Sukainah berkata: Saya menemui Al Fudhail bin ‘Iyadh di Masjidil Haram dan dia bersama surat itu. Ketika dia membacanya, nampak kedua matanya berlinang, dan dia berkata: “Abu Abdirrahman (Abdullah bin al-Mubarak) telah benar dan dia telah menasihatiku.” Muhammad bin Ibrahim bertanya: “Apakah engkau termasuk yang menuliskan haditsnya?” Beliau menjawab: “Ya!” Lalu dia bekata: “Tulislah hadits ini, sebagai balasan untukmu yang membawakan surat Abu Abdirrahman untukku.” Lalu Al Fudhail bin ‘Iyadh mendiktekan untukku:

حدثنا منصور بن المعتمر عن أبي صالح عن أبي هريرة أن رجلا قال: يا رسول الله، علمني عملا أنال به ثواب المجاهدين في سبيل الله، فقال «هل تستطيع أن تصلي فلا تفتر، وتصوم فلا تفطر؟» فقال: يا رسول الله، أنا أضعف من أن أستطيع ذلك، ثم قال النبي صلى الله عليه وسلم «فو الذي نفسي بيده لو طوقت ذلك ما بلغت المجاهدين في سبيل الله، أو ما علمت أن الفرس المجاهد ليستن في طوله، فيكتب له بذلك الحسنات

Berkata kepada kami Manshur bin al-Mu’atamar, dari Abu ash-Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah ada amal perbuatan yang sebanding dengan Jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Kalian tidak akan mampu.” Mereka bertanya hingga dua atau tiga kali, semuanya dijawab: “Kalian tidak akan mampu.” Begitu yang ketiga kalinya, beliau bersabda: “Perumpamaan mujahid di jalan Allah bagaikan seorang yang berpuasa, shalat malam, berdzikir membaca ayat Allah, tidak pernah henti dari puasa dan shalatnya itu sampai pulangnya si mujahid di jalan Allah Ta’ala.”

Kisah ini terdapat antara lain dalam kitab: Tarikh Dimasyqi, karya Imam Ibnu ‘Asakir (w. 571 H), Juz. 32, Hal. 450, Th. 1415 H – 1995M. Darul Fikr, Beirut; Siyar A’lam An Nubala, karya Imam Adz Dzahabi (w. 758 H), Juz, 7, Hal. 386, Th. 1427H – 2006M. Darul Hadits, Kairo; Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, karya Imam Ibnu Katsir (w. 774 H), Juz. 2, Hal. 179, Cet. 1, 1419 H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tahqiq: Muhammad Husein Syamsuddin.

(Disadur dari tulisan: ustadz Farid Nu’man Hasan)

Advertisements