Amar Ma’ruf Nahi Munkar di Akhir Zaman

Hadits dan Atsar yang tercantum di bawah inilah yang membuat saya tetap melontarkan kritik dan kecaman terhadap para penguasa negara-negara Arab yang berkoalisi dengan kaum kuffar dalam apa yang mereka namakan “war on terror”. Meskipun suara kita tidak didengar oleh mereka, yang penting kita telah mengambil sikap al-Wala’ (keberpihakan terhadap Islam dan muslimin) dan al-Bara’ (permusuhan terhadap kekufuran dan kaum kafir yang memerangi Islam). Meskipun tulisan kita tidak dibaca oleh mereka, yang penting kita telah berusaha mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar, meski hanya dengan lisan dan qalbu. Kalau kita menutup mata, memberikan “udzur” (alasan), apalagi membela perbuatan mereka yang munkar tersebut, saya sangat kuatir kita disamakan dengan orang-orang yang mendukung mereka. Atau pengamalan amar ma’ruf nahi munkar yang paling minimal (dengan hati) telah tercabut dari hati kita, bersamaan dengan tercabutnya iman yang benar dan jujur kepada Allah. Wal’iyadzu billah!

وفي سنن أبي داود عن العرس بن عميرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : { إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها ، ومن غاب عنها فرضيها كان كمن شهدها } . 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika suatu kesalahan dilakukan di bumi maka orang yang menyaksikannya lalu membencinya seperti orang yang tidak menyaksikannya. Tapi orang yang tidak menyaksikannya tapi meredhainya, seperti orang yang menyaksikannya.” [HR. Abu Dawud]

وسمع ابن مسعود رضي الله عنه رجلا يقول هلك من لم يأمر بالمعروف ولم ينه عن المنكر . فقال ابن مسعود : هلك من لم يعرف بقلبه المعروف والمنكر . يشير إلى أن معرفة المعروف والمنكر بالقلب فرض لا يسقط عن أحد ، فمن لم يعرفه هلك . وأما الإنكار باللسان واليد فإنما يجب بحسب الطاقة . 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mendengar seseorang berucap, “Celakalah orang yang tidak menyuruh berbuat ma’ruf dan tidak melarang berbuat munkar!” Lalu Ibnu Mas’ud menimpali, “Celakalah orang yang hatinya tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar!”

Advertisements