​Hafal Al Qur’an Belum Cukup

Oleh: Zulfi Akmal

Kita menyaksikan hal yang sangat membahagiakan ketika banyak orang tua memiliki antusias yang luar biasa mendidik anaknya menjadi seorang hafizh Al Qur’an. Mereka berharap semoga anaknya nanti bisa menghadiahkan untuknya sebuah mahkota kebanggaan di akhirat kelak.

Hadits yang menjanjikan hal itu memang ada dari Rasulullah. Namun perlu kita ingat, bahwa bukan hafal semata yang menyebabkan seorang anak diizinkan Allah menjadi syafaat bagi orang tuanya di akhirat nanti. Ada hal yang jauh lebih penting dari itu, yang mengangkat derjatnya sampai menjadi pemberi syafaat bagi orang tuanya.

Yaitu, memahami dan mengamalkan apa yang ada di dalam Al Qur’an. Dan ini lebih penting dan lebih sulit. Kalau sekedar hafal, orientalis saja ada yang hafal Al Qur’an. Penguasa zalim seperti Hajjaj ibn Yusuf Ats Tsaqafy memiliki hafalan yang luar biasa, bahkan berjasa besar terhadap Al Qur’an.

Mari kita perhatikan hadits ini lebih dalam.

ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺃﻧﺲ ﺍﻟﺠﻬﻨﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ‏( ﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻤَﺎ ﻓِﻴﻪِ ، ﺃُﻟْﺒِﺲَ ﻭَﺍﻟِﺪَﺍﻩُ ﺗَﺎﺟًﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ، ﺿَﻮْﺀُﻩُ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣِﻦْ ﺿَﻮْﺀِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺕِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻓِﻴﻜُﻢْ ، ﻓَﻤَﺎ ﻇَﻨُّﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺬَﺍ

Dari Mu’adz ibn Anas Al Juhany – semoga Allah meredhainya- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menghafal Al Qur’an dan MENGAMALKAN apa yang ada di dalamnya, akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya mahkota di hari Kiamat, cahayanya lebih indah dari cahaya matahari. (Itu hadiah untuk orang tuanya) Bagaimana kira-kira pahala bagi orang yang mengamalkannya itu sendiri?”

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ” ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻢ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻮﻥ ﺑﻪ، ﺍﻟﻌﺎﻣﻠﻮﻥ ﺑﻤﺎ ﻓﻴﻪ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺤﻔﻈﻮﻩ ﻋﻦ ﻇﻬﺮ ﻗﻠﺐ، ﻭﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺣﻔﻈﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻔﻬﻤﻪ، ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﻓﻴﻪ، ﻓﻠﻴﺲ ﻣﻦ ﺃﻫﻠﻪ، ﻭﺇﻥ ﺃﻗﺎﻡ ﺣﺮﻭﻓﻪ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺴﻬﻢ .” ﺯﺍﺩ ﺍﻟﻤﻌﺎﺩ

Ibnul Qayyim berkata: Ahlul Qur’an adalah orang yg mengamalkan ajarannya, meskipun tidak dihafalkan. Adapun orang yang menghafalnya namun tidak memahami kandungannya dan tidak mengamalkannya bukanlah termasuk ahlul Qur’an meskipun ia menegakkan huruf-hurufnya seperti ia menegakkan anak panah (maksudnya: mahir dalam membacanya) (Zadul Ma’ad).

Jadi, belum cukup hanya mendidik anak untuk menghafal Al Qur’an. Ada tugas yang lebih berat dari itu, yaitu mendidik mereka untuk memahami dan mengamalkan. Tentu saja orangtua harus lebih dahulu memberikan contoh dalam memahami dan mengamalkannya.

Advertisements

Bacaan al-Quran di Waktu Dunia Sempit

Bacaan al-Quran akan lebih berkesan dan lebih mudah diserap makna-makna dan pesan-pesannya, bila hati kita dalam keadaan tenang dan bening, pasrah kepada Allah, meninggalkan ambisi dunia dan menghadap ke akhirat. Itulah sebabnya bacaan al-Quran di bulan Ramadhan lebih berkesan, ketika perut lagi kosong, badan sedang lemah, justru jiwa kita menjadi lebih kuat dan tajam. Ketika kita merasa lemah dan pasrah kepada Allah, nafsu sedang dinon-aktifkan dan hati kita tertuju kepada ibadah dan akhirat, di waktu itulah ayat-ayat al-Quran menggores tajam di dalam qalbu dan pantulan makna-maknanya mudah ditangkap.

Firman Allah Ta’ala yang terjemahannya:

“Apabila Kami telah selesai membacakan al-Quran itu maka ikutilah bacaannya. Kemudian atas tanggungan Kami lah penjelasannya. Tetapi sayang kalian mencintai dunia dan meninggalkan akhirat!” [QS al-Qiyamah 75:18-20]

*video bacaan al-Quran ust. Nafis Yakub lebih hidup dan berkesan ketika beliau sedang meringkuk di penjara, ketika jiwa pasrah dan terhalang dari dunia.